FILSAFAT

Agama, Hanya Pemenuhan Harapan?

Freud filosofis
Freud

Agama, Hanya Pemenuhan Harapan? merupakan pertanyaan ketika membaca pemikiran Freud. sebelum melangkah lebih jauh, kita akan membaca historisnya. Secara historis dan biografis, tidak ada yang bisa diragu­kan bahwa Freud telah menjadi ateis sejak masa-masa sekolahnya. Dia telah menjadi ateis jauh sebelum menjadi psikoanalis. Konsekuensinya, ateisme Freud tidak di­dasarkan pada psikoanalisis, melainkan melampauinya. Atas dasar ini jugalah mengapa Freud secara konstan menegaskan bahwa psikoanalisis tidak berkepentingan dengan ateisme. Psikoanalisis merupakan metode investigasi dan penyembuhan serta bisa diterapkan baik oleh seorang ateis atau teis. Oleh karena itu, dengan kukuh Freud yang ateis membela dirinya terhadap tuduhan eksploitasi Weltanschauung ateistik dari “perangkat karya netral”. Secara metodologis, “ateisme” tidak boleh ditujukan pada ateisme ideologis, sebagaimana psikoanalisis tidak bisa dijadikan penjelasan total terhadap realitas.

Freud mengambil dari Feuerbach dan pengganti- penggantinya argumen esensial bagi ateisme personalnya: “Semua yang telah saya lakukan —dan ini hanya sesuatu yang baru dalam penjelasan saya— adalah untuk menambah­kan beberapa pondasi psikologis menuju kritisisme dari pendahulu-pendahulu besar saya,” kata Freud dengan senang hati dan jujur. Meskipun Feuerbach telah melahir­kan substansi psikologis ateisme: harapan-harapan, fantasi- fantasi atau kekuatan imajinasi merupakan jawaban bagi proyeksi gagasan tentang Tuhan dan seluruh pseudo agama atau alam mimpi. Seperti teori candu Marx dalam tingkat yang lebih kuno, teori ilusi Freud didasarkan pada teori proyeksi Feuerbach. Apa yang baru secara esensial adalah semata-semata penguatan psikoanalisis Freud terhadap teori Feuerbach.

Artinya, bagaimana pun, kritik ateisme Freud sebagai sebuah argumen yang bisa ditampilkan melawan ateisme Feuerbach (dan Marx), khususnya terhadap bukti yang digambarkan dari psikologi dan filsafat agama, adalah memang valid. Dan sejauh ateisme Feuerbach (dan Marx) dijadikan sebuah hipotesis yang pada tingkat terakhirnya secara konklusif tidak terbukti., begitu juga ateisme Freud kini, dalam tingkat terakhir, harus dilihat sebagai hipotesis yang secara konklusif tidak terbukti.

Tentu saja, Freud telah mempertanyakan landasaan teori proyeksi psikologis Feuerbach dan melakukan pengujian psikologis dalam pada asumsi-asumsi ketaksadarannya. Dia bahkan mampu memberikan penilaian yang lebih mendalam pada hipotesis ini dari sudut sejarah agama dan kemudian psikologi agama. Dengan dengan kenyataan ini, Freud tidak leluasa membuktikan substansiasi independen dari teori proyeksi dibandingkan Marx. Freud secara taken forgranted membedah teori proyeksi ini (yang tampak tidak dapat dibantah secara substansial oleh “pendahulu-pendahulu besarnya”) dan kemudian mempertanyakan serta mencoba menunjukkan bagaimana teori itu bisa dijelaskan dari sudut sejarah agama dan psikologi agama. Dan tentu saja asumsi ini yang ditujukan pada bidang terakhir itu akan kehilangan pondasinya.

Teori ini sangat besar manfaatnya bagiFreud lantaran dia meneliti seberapa besar ketaksadaran membentuk individu manusia dan sejarah manusia, seberapa fundamental masa kanak-kanak terdahulu, relasi orang tua-anak yang pertama, dan pendekatan seksualitas atas perilaku religius seseorang dan gagasan-gagasannya. Namun kita juga harus melihat secara jelas hubungan Feurbeach, Marx dan Freud bahwa dari pengaruh faktor-faktor psikologis yang tak dapat dibantah (atau ekonomi dan sosial) terhadap agama dan gagasan tentang Tuhan tidak ada kesimpulan yang bisa digambarkan tentang eksistensi dan non-eksistensi Tuhan.

Kita mungkin bisa memberikan ringkasan yang lebih konkret dengan merujuk pada statemen utama Freud terhadap kritik agama: “Gagasan-gagasan religius adalah pemuasan harapan-harapan manusia yang paling tua, paling kuat dan paling penting.” Hal ini memang cukup benar, sebagaimana para pengiman Tuhan bisa juga menga­takannya. Dia juga mengakui pada waktu yang sama:

Agama, seperti yang dijebarkan Marx, secara pasti bisa berupa candu, yaitu hilangnya tatanan sosial dan konsolasi (represi). Namun agama juga bisa tidak demikian. Agama, seperti yang ditunjukkan Freud, secara pasti bisa berupa ilusi, ekspresi neurosis dan ketidakmatangan psikologis (regresi). Namun agama bisa juga tidak demikian. Semua kepercayaan, harapan, cinta manusia y g berhubungan dengan seseorang, sesuatu atau secara pasti terdiri dari elemen proyeksi. Namun ag Juga bisa, dengan alasan ini, bukan proyeksi semata. Percaya pada Tuhan secara pasti bisa dipengaruhi dengan sangat besar oleh perilaku anak-anak terhadap ayahnya. Namun ini tidak berarti bahwa Tuhan mungkin tidak ada.

Konsekuensinya, masalah ini tidak memberikan fakta bahwa kepercayaan pada Tuhan bisa dijelaskan secara psikologis. Dari sudut pandang psikologis, kepercayaan pada Tuhan selalu menunjukkan struktur dan kandungan proyeksi atau bisa berada di bawah kendali kecurigaan atas suatu proyeksi murni. Hal ini sama dengan pencita; setiap pencita dengan pasti memproyeksikan imajinasinya pada kekasih yang dicintainya. Tapi apakah ini berarti bahwa kecintaannya tidak eksis atau dalam berbagai tingkatan tidak eksis secara substansial seperti yang dia lihat dan pikirkan tentang kekasihnya? Dengan bantuan proyeksi- proyeksinya, bisakah dia memahami kekasihnya dengan lebih tepat dibanding seseorang yang mencoba menjadi peneliti netral untuk menentukannya dari luar? Fakta proyeksi dengan demikian tidak membuktikan eksistensi atau non-eksistensi obyek yang ditujunya.

Dari titik tolak dalam menjawab Agama, Hanya Pemenuhan Harapan? kemudian argumen Freud dari abnormal menuju normal, dari neurotik menuju agama -bagaimana pun bagusnya penentuan itu- menemukan batasan-batasan yang esensial. Apakah agama merupakan pemikiran harapan? dan apakah Tuhan, dengan alasan itu, harus semata merpakan struktur harapan manusia, ilusi kekanak-kanakan atau bahkan delusi neurotik murni? seperti yang telah kita kemukakan dalam berbagi hal tentang Feuerbach, Tuhan yang nyata (a real God) mungkin secara pasti dihubungkan dengan harapan pada Tuhan. Kemungkinan ini adalah satu hal yang bahkan oleh Freud tidak dinafikan. Maka mengapa pemikiran harapan di­kikis dan secara universal didiskreditkan? Bukankah seluruh harapan dan termasuk manusia, harapan dalam kepentingan kecil atau besar, harapan yang bertujuan pada kebaikan-kebaikan dunia, kepada teman-teman kita, kepada dunia dan mungkin saja pada Tuhan?

Tentu saja, kepercayaan religius bisa menjadi jalan yang buruk jika tidak memiliki landasan genuin di dalamnya atau bila tidak ada landasan yang mengukuhkan, setelah penolakan psikoanalisis, kepercayaan itu; bagaimana pun kesalehannya mengemuka, sejumlah keimanan bisa belum matang, kekanak-kanakan dan mungkin saja bahkan neurotik. Tapi apakah keimanan buruk dan kebenarannya yang meragukan ini akibat —seperti psikoanalisis sendiri— ia juga mencakup semua kemungkinan motivasi-motivasi insting, kecenderungan yang penuh nafsu, mekanisme psikodinamik, gelegar kesadaran dan ketaksadaran? Mengapa dalam kenyataan ini saya tidak dibolehkan untuk berharap? Mengapa saya tidak boleh berharap agar keringat, darah dan air mata, semua jenis penderitaan milenium ini, tidak mungkin menjadi kesia-siaan, agar kebahagiaan jelas pada akhirnya menjadi kemungkinan bagi semua manusia —terutama manusia yang hina dan lemah? Mengapa di sisi lain saya tidak diijinkan untuk merasakan kejadian yang tak menyenangkan agar menjadi puas atas peristiwa-peristiwa kebahagiaan yang jarang terjadi dan —dengan demikian- untuk menuju pada istilah “penderitaan normal”? Tidak mungkinkah saya juga merasakan perubahan gagasan bahwa kehidupan individu dan manusia diatur hanya oleh hukum- hukum alam yang kejam, oleh permainan kesempatan dan oleh pertahanan dari serangan-serangan dan bahwa semua kematian adalah kematian yang menuju pada ketiadaan?

Pandangan ini tidak mengikuti —seperti sejumlah teolog yang memahaminya dengan salah— kepentingan besar manusia pada Tuhan dan kehidupan eternal bahwa Tuhan memang ada dan kehidupan eternal serta kebahagiaan benar-benar nyata. Namun kaum ateis yang berpikir bahwa apa yang menyertai non-eksistensi Tuhan dan ketidaknyataan kehidupan eternal adalah juga salah. Memang benar bahwa harapan itu tidak berdiri sendiri dalam pemenuhannya. Harapan mungkin tidak berhubungan dengan harapan-harapan manusia yang paling tua, paling kuat dan paling mendasar (urgen) dan bahwa manusia secara aktual menghargai ilusi-ilusi milenium. Hanya seperti eorang anak kecil yang kesepian, terabaikan, tertekan dan membutuhkan harapan-harapan kebahagiaan yang tulus, luas, imajis dan fantastis bahwa mungkm saja muncul seorang ayah di berbagai kamp orang-orang Rusia jauh, penghargaan ilusi, membuka jalan penipuan -diri, megikuti -diri, memgikuti imaji-imaji harapan, setidaknya … setidaknya? setidaknya ayah itu, yang telah lama diasumsikan sudah mati, yang diketahui anak itu hanya melalui pendengarannya, memiliki sejumlah kesempatan untuk menunjukkan dirinya hidup dan —meskipun tidak ada seorang pun yang begitu mempercayainya— masih eksis. Lalu —tentu saja kemudian— anak itu akan sepenuhnya benar menghadapi orang-orang yang tidak mempercayai eksistensi ayah itu. Kemudian akan muncul realitas yang berhubungan dengan pemikiran harapan anak itu dan berharap suatu hari akan melihatnya secara langsung (face to face).

Di sini kemudian kita telah menemukan inti problem itu, yang tidak semuanya sulit untuk dipahami dan dalam bagian berbagai jenis teori proyeksi, teori candu dan teori ilusi sekilas kehilangan kekuatan sugestifnya dalam menjawab Agama, Hanya Pemenuhan Harapan? Bisa saja sosok ini dalam bayangan dan mimpi kita benar-benar ada. Bisa saja sosok yang menjanjikan pada kita kebahagiaan eternal ini memang ada. Bukan hanya kesukaan bayi pada payudara ibunya —yang, menurut Freud, secara permanen membentuk ketaksadaran personal— melainkan realitas yang cukup berbeda dalam masa depan yang berhubungan dengan aspirasi-aspirasi tepat ketaksadaran dan kesadaran orang dewasa, manusia tua dan tujuan harapan-harapan manusia yang paling tua, paling kuat dan paling urgen, yang bisa memenuhi impian kita pada kebahagiaan yang tak terbatas. Bisa saja. Siapa tahu?

Penjelasan Freud tentang akar psikologis kepercayaan pada Tuhan tidak menyangkal keimanan ini sendiri. Freud menganalisis dan mengamati gagasan-gagasan religius ini secara psikologis. Inilah pandangan tepat kaum teolog dan kalangan gereja yang tidak pernah ditolak oleh Freud atau Feuerbach tentang kebenaran yang terjadi dalam tingkatan sebelumnya dalam menjawab Agama, Hanya Pemenuhan Harapan? . Karenanya menjadi mungkin dan legitimate untuk memberikan interpretasi kepercayaan psikologis pada Tuhan. Tapi apakah aspek psikologis itu sendiri adalah keseluruhan agama? Harus dicermati bahwa Freud sebenarnya tidak merusak dan menolak gagasan-gagasan agama secara prinsipil dan tidak ada ateis atau teologis yang dapat membaca kenyataan ini dalam kritik agama Freud. Interpretasi psikologis itu sendiri, dari sisi yang paling alamiah, tidak bisa menghancurkan final yang absolut atau realitas pertama: lantaran realitas ini memainkan prinsip yang netral. Dari sudut pandang psikoiogis —dan bahkan kekuatan positif argumen itu tidak boleh dilebih-lebihkan— eksistensi Tuhan harus memunculkan pertanyaan yang terbuka.

Ateisme Freud, yang telah tampak jelas jauh sebelum penemuan-penemuan psikologisnya, dengan demikian menuju pada hipotesis murni, postulasi yang tak terbukti, sebuah klaim dogmatis. Dan sebelumnya Freud dengan jantan telah mengakui kenyataan ini. Gagasan-gagasan agama, sekalipun dilecehkan, baginya adalah sesuatu yang irrefutcible. Secara prinsipil, gagasan-gagasan itu mungkin saja benar. Bahkan bagi Freud, apa yang harus dinyatakan tentang alam psikologis meteka ialah dengan tanpa kepentingan untuk menentukan kebenaran ajarannya dan nilai kebenarannya. Kita telah menyimak jawabannya: “Kita memberitahukan diri kita sendiri, alam psikologis itu tentu baik tapi…”

Catatan: tulisan ini diambil dari buku Ateisme Sigmued Freud karya hans Kung. Dan pembelian buku filsafat dapat di instagram infobuku.co atau WA 085725899372 dengan Klik bit.ly/2HCJEe0

Related posts

Kritik Karl Marx Terhadap Agama

admin

Biografi al-Farabi

admin

Sejarah Kelam Islam

admin

1 comment

Moral, Agama, dan Etika Filosolis - filosofis Januari 29, 2020 at 8:57 am

[…] agama berbicara tentang topik-topik etis, pada umumnya ia berkhotbah, artinya, ia berusaha memberi […]

Reply

Leave a Comment