FILSAFAT

ANARKISME

Anarkisme filosofis
Lambang Anarkisme

Anarkisme merupakan ajaran terhadap penolakan terhadap berbagai bentuk aturan. Dalam mengembangkan gagasan penolakan itu, kaum anarkis, yang secara luas dapat dikelasifikasikan sebagai individualis atau sosialis, menolak negara. Mereka berpendapat bahwa tatanan sosial hanya dapat terwujud jika tidak ada negara. Dengan kata lain, mereka mendukung gerakan ke arah ‘masyarakat tanpa negara”. Orang pertama yang mengelaborasi teori anarkisme adalah William Godwin (1756—1836), tetapi Pierre-Joseph Proudhon (1809—1865) adalah orang pertama yang menyebut dirinya sebagai seorang penganut ideologi anarkis. Sebagai gerakan sosial, anarkisme, dalam bentuk revolusionernya, terkristalisasi dalam gerakan penentangan terhadap Marxisme pada periode Komunis Internasional (Kornintern) Pertama 1864—1872. Persoalan yang menjadi perdebatan saat itu adalah apakah sosialis harus segera melakukan “penghapusan negara?” Di abad ke-20, setelah sosialisme semakin statis, gerakan anarkis mulai melemah, tetapi ide-idenya telah memengaruhi gerakan lain dan ikut menyumbang pada kritik terhadap teori dan praktik statis. Anarkisme juga masih menarik karena ia mengangkat isu-isu yang mendasar bagi teori politik dan sosial.

Salah satu hal yang menarik dari anarkisme adalah penilaiannya tentang otoritas. “Anarkisme filosofis’, salah satu komponen dari aliran individualis, menolak gagasan otoritas yang absah (legitimate). Yang dimaksud otoritas yang absah adalah setiap orang (pejabat negara atau bukan) memiliki hak untuk memaksakan kepatuhan orang lain. Otonomi individual, yang dilihat secara moral, seperti oleh William Godwin dan Wolff (1970), mengharuskan individu bertindak berdasar penilaian mereka, bukan berdasarkan otoritas yang absah. Jika dilihat secara egoistik, seperti oleh Stirner (1845). otonomi individual mengimplikasikan bahwa orang yang unik yang benar-benar “memiliki dirinya sendiri tidak mengakui kewajiban kepada orang lain dan, dalam batas-batas kekuasaannya, seseorang melakukan apa pun yang benar bagi dirinya sendiri.

Karena “anarkisme filosofis” menganggap kerja sama dan organisasi formal sebagai sesuatu yang bermasalah, anarkis sering kali tidak terlalu radikal. Walaupun umumnya mereka mencurigai otoritas, mereka mungkin mengakui otoritas rasional dari para pakar yang kompeten di bidangnya dan otoritas moral dari norma sosial dasai, seperti janji harus ditepati”, dan dalam pengertian politik hadir di semua kelompok organisasi yang jarang ada kebulatan suara, mereka mungkin mengakui otoritas politik (tetapi bukan otoritas negara). Jadi, keputusan yang diambil secara bersama oleh anggota komunitas atau kerja sama karyawan dianggap mengikat secara moral. Tetapi mereka menolak otoritas yang didukung oleh kekuasaan koersif— kekuasaan yang kebanyakan, tetapi tidak semuanya, dilembagakan dalam bentuk negara.

Anarkis menolak negara modern karena, dalam batas- batasnya, negara membagi orang menjadi penguasa dan yang dikuasai, memonopoli cara-cara koersi fisik, mengklaim kekuasaan atas semua orang dan properti, menyebarluaskan hukum yang lebih diutamakan di atas semua hukum dan adat kebiasaan lain, menghukum orang yang melanggar hukum negara, dan melakukan pengambilan paksa harta warganya melalui mekanisme pajak dan cara-cara lainnya. Lebih jauh, bersama-sama negara lain, negara membagi masyarakat manusia menjadi masyarakat nasional, dan secara periodik melakukan perang, dan karenanya negara telah mengesahkan (authorizing) pembunuhan. Menurut kaum anarkis, bahkan sebuah negara demokratis sekalipun kekurangan legitimasi karena ia tidak didasarkan pada persetujuan (consenf) dalam pengertian yang ketat dan hubungan penguasa-bawahan hanyalah sekedar topeng. Anarkis mungkin mengakui bahwa terkadang negara melaksanakan fungsi yang bermanfaat, seperti melindungi—dan sekaligus melanggar—hak asasi manusia, tetapi mereka berargumen bahwa hal seperti itu dapat dan harus dilaksanakan oleh organisasi sukarela.

Dalam usaha menolak negara ini, anarkis menyangkal pandangan yang dianut luas, yang diekspresikan oleh Thomas Hobbes (1651), yang menyatakan bahwa tanpa ada negara tidak akan ada masyarakat dan kehidupan akan terasing, miskin, buruk, kasar, dan kotor. Anarkis percaya bahwa manusia pada dasarnya bersifat sosial, bukan asosial; dan sebelum negara pertama dibentuk sekitar 5000 tahun lalu, semua manusia hidup dalam masyarakat tanpa negara. Anarkis menggunakan pandnagan John Locke bahwa “kondisi natural manusia” yang menempatkan semua orang sebagai manusia yang memiliki kebebasan dan kesertaran serta tidak seorang pun berhak menguasai orang lain, jelas merupakan sebuah masyarakat. Mereka tidak menerima justifikasi Loke soal kesepakatan tentang negara yang terbatas, sebuah agen yang melindungi hak alamiah, terutama hak untuk memiliki—sebuah pandangan tentang negara yang diasosiasikan dengan liberalisme laissez- faire, yang muncul kembali dalam karya libertarian Nozick (1974). Namun, mereka mendukung pandangan Locke lainnya, yang kelak diekspresikan dengan kuat oleh Paine (1971-2, pt 2 ch. 1) dan dinyatakan kembali oleh Hayek (1973, ch. 2), bahwa tatanan sosial eksis secara independen dari negara—tatanan yang muncul secara spontan, peroduk dari sosiabilitas (sociability) manusia. Yang membedakan anarkis dengan liberalis adalah keyakinan mereka bahwa tatanan natural ini tidak perlu dilengkapi dengan tatanan yang dipaksakan dari atas. Dalam bahasa teori pilihan rasional, walaupun tatanan sosial adalah “kebaikan publik”, sebuah kebaikan yang dicirikan oleh indivisibility dan non-excludability, orang—di dalam kondisi yang dibayangkan anarkis—akan bekeija sama secara sukarela untuk melayani diri mereka sendiri (Taylor, 1982). Bagi anarkis, berbeda dengan kaum liberal kelasik, negara tidak “diperlukan” tetapi merupakan kejahatan yang “positif—dan seperti perang, merupakan sumber utama dari ketidaktertiban masyarakat manusia. Karenanya mereka memperjuangkan gagasan “masyarakat alamiah”, masyarakat pluralistik yang mengatur diri sendiri, yang mengondisikan kekuasan dan otoritas didesentralisasikan secara radikal.

Baik itu anarkisme individualis maupun anarkisme sosialis membedakan secara tegas antara masyarakat dan negara berdasarkan landasan liberal. Anarkisme individualis bisa dilihat sebagai liberalisme yang dibawa ke kesimpulan, atau logika, yang ekstrim  ekstrem. Individu adalah unit dasar, “masyarakat” adalah term kolektif untuk agregasi individu. Sedangkan freedom (kebebasan) didefinisikan secara negatif sebagai tidak adanya koersi, dan tujuannya adalah memaksimalkan kebebasan individual dengan cara yang sesuai dengan kebabasan orang lain yang sederjat. prinsip “kedaulatan individu” dipertantangkan dengan kedaulatan negara. pada soso ekonomi, invidualis biasanya menegaskan arti penting properti atau hak milik privat, mendukung proteksi individu, mengecam semua bentuk monopoli, dan memuji pasar bebas. Karena yakin bahwa proposal mereka akan menjamin hasil kerja seseorang akan didapat oleh orang itu dan tidak akan menimbulkan akumulasi kepemilikan melalui ekpsloitasi kerja orang lain, maka individualis abad sembilan belas kadang menyebut diri mereka sebagai sosialis. Tetapi penerus mereka dewasa ini, seperti Murray Rothbaid (1973), yang meninggalkan teori nilai keija, mendeskripsikan diri mereka sebagai “anarcho-capitalists”. Program mereka adalah privatisasi sepenuhnya. Mereka berargumen bahwa pasar bebas dapat menyediakan semua barang dan jasa, termasuk perlindungan atas orang dan propertinya, yang kini diduga disediakan oleh monopoli politik yang dinamakan negara.

Anarkisme sosialis mungkin bisa dilihat sebagai gabungan antara liberalisme dan sosialisme. Mereka mengutamakan kebebasan individual, tetapi kebebasan itu tidak hanya didefinisikan secara negatif, tetapi juga sebagai kapasitas untuk memuaskan kebutuhan. Mereka menegaskan bahwa kesetaraan ekonomi dan sosial adalah kondisi yang diperlukan untuk memaksimumkan kebebasan bagi semua orang. Mereka juga menolak properti privat kapitalis dan negara. Mereka amat menekankan solidaritas sosial, yang diekspresikan dalam tindakan saling membantu. Masyarakat dianggap sebagai jaringan asosiasi suka rela, tetapi juga, yang lebih penting, sebagai entitas yang terdiri dari komunita- komunitas lokal. Cita-cita idealnya adalah individualitas komunal.

Anarkisme sosialis sebagian besar dibentuk oleh gagasan Proudhon: kebebasan adalah induk, bukan anak, dari ketertiban; semua partai politik adalah varietas dari despotisme; kekuasaan negara dan modal (Capital) adalah sama; karenanya. Proletariat, tidak dapat membebaskan dirinya sendiri dengan menggunakan kekuasaan negara tetapi hanya bisa dengan tindakan langsung secara damai); dan masyarakat harus ditata sebagai komunitas lokal yang otonom dan asosiasi produsen, yang dihubungkan dengan “prinsip federal” Akan tetapi, penerusnya, Michel A. Bakunin dan Peter A. Kropotkin di Rusia, mengganti “mutualisme” dengan “kolektivisme” dan kemudian “komumsme”-yang disebut belakangan menyiratkan “segala sesuatu milik semua orang” dan distribusi berdasarkan kebutuhan.

Juga, berdasar inspirasi Bakunin, anarkis mengadopsi strateg, mendorong kebangkitan rakyat dengan cara men^t dan mengumpulkan properti kapitalis dan tanah dan penghapusan negara. Dari sana akan muncul komuni yang otonom tetapi terhubung secara federal: masyarakat sosialis yang ditata dan bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah Untuk mendorong semangat pemberontakan di kalangan orang tertindas, anarkis mengadopsi taktik “propaganda dengan tindakan” dalam bentuk, pertama, pemberontakan lokal sebagai pemicu dan kemudian, melakukan pembunuhan politik (asscisination) dan terorisme. Karena menghadapi represi atas gerakan mereka, para anarkis lain mengadopsi strategi alternatif yang diasosiasikan dengan sindikalisme. Gagasannya adalah mengubah serikat buruh menjadi instrumen revolusioner dari perjuangan kelas dan membuat mereka sebagai unit dasar masyarakat baru, bukan sebagai komuni. Melalui sindikalisme inilah anarkis memberikan pengaruh paling besar terhadap gerakan sosialisme pada periode 1895— 1920. Pengaruh ini bertahan lebih lama di Spanyol, yang selama perang sipil 1936—1939, unarcho-syndicalists, sempat sukses sebentar, berusaha mewujudkan konsep revolusi mereka.

Di Spanyol, seperti pada revolusi Rusia sebelumnya, anarkisme terus berselisih dengan Marxisme walaupun mereka kerap menerima banyak analisis ekonomi Marx dan Marxis. Mereka sepakat, bahwa masyarakat komunis tanpa kelas akan mewujudkan masyarakat tanpa negara(stateless). Perbedaannya terletak pada soal cara untuk mencapai tujuan itu. Anarkis menentang gagasan Marxis yang menyatakan bahwa buruh harus mengorganisasikan diri mereka menjadi kelompok politik tersendiri guna mendapatkan konsesi dari negara borjuis sebagai langkah awal untuk menggulingkan negara. Dan, mereka menentang gagasan negara buruh— “kediktatoran proletariat”-yang dianggap akan layu apabila relasi properti kapitalis dihapuskan. Anarkis berargumen bahwa yang disebut pertama di atas akan menyebabkan kooptasi oleh negara borjuis, dan bahwa, meski jika itu tidak terjadi, konsep negara buruh justru akan melahirkan kediktatoran di atas proletariat dan karenanya membentuk kekuasan kelas baru. Tetapi di balik perbedaan ini ada pandangan lain tentang sifat dan negara. Meskip anarkis sepakat bahwa kelas ekonomi yang berkuasa menggunakan negara untuk mempertahankan dominasi mereka, anarkis memandang negara mengandung kekuatan politik yang tidak bisa direduksi, bahkan “dalam analisis terakhir”, menjadi kekuatan ekonomi saja. Karena kekuatan politik punya akar independen, maka negara adalah organisasi yang memiliki dinamika dan “logika” tersendiri. Jika tidak dilawan, logika itu akan melahirkan dominasi penuh negara atas masyarakat: totalitarianisme.

Anarkisme yang berbeda tajam dengan anarkisme revolusioner dalam hal metode, tetapi bukan dalam visinya tentang masyarakat sosialis, adalah anarkisme yang berasal dari tradisi pasifis. “Hukum Cinta” yang diekspresikan dalam khotbah di atas bukit, membuat novelis Rusia Leo Tolstoy menentang negara sebagai “kekerasan yang terorganisasi” dan mengajak orang untuk melawan perintahnya yang imoral. Seruan ini memengaruhi Mahatma Gandhi dalam usahanya mengembangkan filsafat non-kekerasan di India. Dia memopulerkan teknik perlawanan massa tanpa kekerasan dan menciptakan gagasan penting anarcho-pacifisnv. “revolusi tanpa kekerasan”, yang dideskripsikan sebagai program yang bukan untuk merampas kekuasaan, tetapi mengubah hubungan. Menurutnya, kemerdekaan nasional hanyalah langkah awal dalam revolusi yang dilanjutkan oleh Vinoba Bhave, yang mengampanyekan pembagian tanah secara sukarela kepada penduduk desa, untuk mewujudkan impian Gandhi tentang India sebagai republik desa swasembada yang mengatur diri sendiri (Ostergaard, 1982).

Dalam era yang menjadi saksi meningkatnya kekuasaan negara di mana-mana, militerisasi, dan penerimaan atas organisasi politik normal dalam masyarakat di suatu bangsa, pandangan anarkisme menjadi pandangan yang “melawan arus. Tetapi, anarkisme tetap bertahan dan menunjukkan kemampuan untuk hidup lebih lama ketimbang gerakan anarkis spesifik. Satu generasi setelah pudarnya anarcho syndicalism, ide-ide anarkis muncul kembali, terkadang secara spektakuler, dalam konteks geiakan kiri baru era 1960-an. Pengaruh mereka masih dapat dilihat hingga sekarang, terutama dalam gerakan perdamaian, feminisme liberasi lesbian dan gay, ekologi sosial radikal, liberasi hewan, dan manajemen-diri buruh. Tindakan langsung, sebagai alternatif kelasik anarkis untuk tindakan politik konvensional, juga menjadi populer. Pada ujung lain spektrum politik, anarkisme individualis, yang lahir kembali sebagai anarcho-capitalism, merupakan kecenderungan dalam gerakan kanan baru libertarian.

Anarkisme yang bertahan dan menyuburkan gerakan lain tidak menyerukan abolisi negara, seperti dilakukan Bakunin. Tetapi ia mengajak kepada “anarki tindakan” dan mengajak dilakukannya perubahan untuk mempromosikan “anarkisasi”, bukan “statisasi” masyarakat manusia. Di luar itu, ia bertahan sebagai protes permanen terhadap semua bentuk relasi kekuasaan lcoersif, dan semua teori yang menyangkal wawasan dasar dari liberalisme: manusia pada dasarnya adalah bebas dan sederajat.

Catatab: Artikel ini ditulis oleh Geofrey Ostergard dalam buku Esiklopedia Pemikiran Kiri. Atau pembelian buku bisa ke instagram infobuku.co atau ke WA 085725899372 dengan klik link bit.ly/2HCJEe0

Related posts

Kiprah Muhammadiyah dalam Memajukan Umat dan Bangsa

admin

Riwayat Hidup Nietzsche dan karya-karyanya

admin

Pythagoras Menciptakan Agama

admin

Leave a Comment