FILSAFAT

Filsafat Socrates

Filosofis Socrates

Filsafat Socrates merupakan utama dan pertama yang harus dipahami oleh seorang yang inget belajar filsafat. Ia merupakan salah alah seorang yang merupakan tokoh utama, kalaupun tidak pertama, di masa Yunani Kuno itu yang mengarahkan perhatiannya kepada masalah-masalah bermasyarakat dan bernegara.

Filosof ini lahir kira-kira tahun 469 Sebelum Masehi. Seorang yang amat kuat jasmaninya dan tahan menghadapi berbagai rintangan hidup, ia pernah berkali-kali membaktikan diri­nya untuk Athena dalam peperangan dan pernah pula aktif dalam politik. Tetapi akhirnya ia mengundurkan diri dari kehidupan poli­tik ini, dan mencurahkan perhatiannya semata-mata kepada pemi­kiran-pemikiran masalah yang bersangkutan dengan masyarakat.

Perhatian ini ia nyatakan dengan mengadakan pembicaraan-pembi­caraan dengan siapa saja yang ia jumpai, di mana pun tempatnya.

Ia mengaku sebagai seseorang yang tidak tahu apa-apa, suatu sikap yang terkenal dengan istilah ironi Socrates. Oleh karena meng­aku tidak tahu itu, ia pun mengemukakan pertanyaan-pertanyaan kepada orang-orang, tetapi setiap jawaban yang ia teruna ia sambut lagi dengan pertanyaan lebih lanjut. Akhirnya orang pun kehabisan jawaban.

Dengan cara begini orang yang mulanya merasa pasti tahu akan sesuatu yang ditanya tadi, merasa ragu pula akan kepastian tahunya; kebenaran yang disangka telah benar, rupanya menjadi kebenaran yang palsu. Dengan cara seperti ini, dan ini terutama mengenai orang-orang yang berpretensi tahu sebenar tahu, kedok pretensi itu akan terbuka dan kebodohanlah yang kelihatan.

Filsafat Socrates merupakan sebuah tanya-jawab (atau lebih terkenal dengan istilah dialog Socrates) yang kemudian membuat masyarakat Athena tergugah pikirannya. Yang menjadi korban terutama adalah golongan sofis. Sofis arti mulanya ialah orang yang ahli tentang sesuatu, atau seorang yang mempu­nyai kecakapan khusus secara praktis. Kemudian kata sofis ini dikenakan kepada golongan yang kerjanya memberikan pelajaran kepada orang-orang yang menghendakinya dengan jalan memu­ngut bayaran, sedemikian rupa sehingga sofis ini—sekurang-ku­rangnya demikianlah menurut Socrates dan Plato—lebih memen­tingkan bayaran daripada isi pengetahuan yang sesungguhnya.

Go­longan sofis mengutamakan pula ajaran-ajaran praktis, sesuatu ya tiada pula memandang kedudukan—tuduhan yang mengatakan bahwa ia bermaksud merusak anak-anak muda Athena dengan ajarannya itu, serta membahayakan kepercayaan umum di negara tersebut. Tuduhan ini mengenai sasarannya.

Pada waktu berumur 70 tahun, karena Filsafat Socrates, akhirnya dijatuhi hukuman mati. Setia dan teguh dalam keyakinannya, orang tua ini tidak mempergunakan kesempatan untuk lari dari tahanannya, sungguhpun kesempatan untuk lari ini tersedia. Ia hadapi hukuman mati itu dengan tabah; baginya mati dalam keyakinan.

Catatan: tulisan ini diambil dari buku Pemikiran Politik di Negara Barat karya Deliar Noer. Dan pembelian buku filsafat dapat di instagram infobuku.co atau WA 085725899372 dengan Klik bit.ly/2HCJEe0

Related posts

Biografi al-Farabi

admin

Agama menurut Freud

admin

Sejarah Kelam Islam

admin

1 comment

Avatar
Yudha Januari 31, 2020 at 2:39 am

Aristoteles lagi kk

Reply

Leave a Comment