FILSAFAT

Kebenaran Menurut Nietzsche

Kebenaran menurut Nietzsche, filosofis.id
Friedrich Wilhelm Nietzsche

Kebenaran Menurut Nietzsche sangat rumitnya berbagai aliran epistemologi. Di sini tampak sekali nafas skeptisme dan realisme, namun pendapatnya lebih jauh dan itu. Secara umum bagi para epistemolog, masalah epistemologi adalah masalah sentral dalam filsafat. Epistemologi bukan hanya mungkin, namun mutlak perlu.

Suatu pikiran yang telah mencapai tingkat refleksi tidak dapat dipuaskan dengan kembali ke berbagai jaminan akan anggapan umum, tetapi justru semakin mendesak maju ke tingkatan yang baru. Kepastian yang sekarang dicapai oleh epistemolog dimungkinkan oleh suatu keraguan. Terhadap keraguan ini, epistemologi adalah obatnya. Bila epistemologi berhasil mengusir keraguan ini, akan ditemukan kepastian reflektif yang lebih pantas dianggap sebagai pengetahuan (Hardono Hadi, 1994: 18).

Kepastian, kebenaran, dan kenyataan merupakan misi epistemologi (terutama epistemologi tradisional). Bagi Nietzsche ambisi semacam ini adalah sebuah mimpi. Sedangkan, pandangan skeptisme keberatan dalam melaksanakan epistemologi yang dianggap telah mengusulkan tujuan khayal bagi dirinya sendiri.

Bila validitas pengetahuan didemonstrasikan, pada dasarnya validitas ini hanya diandaikan belaka. E. Gilson beranggapan bahwa tidak ada masalah pada pengetahuan, sebab pertanyaan kritis tidak dapat diajukan secara konsisten (Hardono Hadi, 1994: 19). Kebenaran pengetahuan adalah sesuatu yang absurd, sebagaimana Kebenaran Menurut Nietzsche(1968: 493):

“Kebenaran adalah semacam kesalahan, dimana tanpa kebenaran spesies makhluk hidup tencu tidak dapat hidup.”

Bagi seorang skeptisme absolut, pikiran manusia tidak dapat mencapai kebenaran obyektif. Mereka yakin bahwa mereka tidak dapat diyakinkan (Hardono Hadi, 1994: 19). Sebagai konsekuensinya, anomali epistemologi yang mengkuatirkan para epistemolog sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar karena faktor keterbatasan manusia.

Secara ontologis, dasar dari keraguan adalah keterbatasan manusia. Manusia terbatas sebagaimana adanya. Keterbatasannya ini melintasi seluruh keberadaannya, dan tentu saja juga menjangkau pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya.

Manusia bukan pengada dengan batasan-batasan, tetapi ia adalah pengada yang terbatas (Hardono Hadi, 1994: 25). Keterbatasan ini mempunyai implikasi terhadap kebenaran pengetahuan manusia. Lebih jauh masalah ini diungkapkan Kebenaran Menurut Nietzsche, sebagaimana yang dikutip oleh ST. Sunardi (1999: 146):

“Konsep kebenaran’ adalah sesuatu yang tidak bermakna. Seluruh wilayah benar-salah’ hanya digunakan dalam hubungan-hubungan, bukan pada dirinya sendiri’. Tidak ada ‘esensi pada dirinya’ (yang membentuk esensi hanyalah hubungan-hubungan), demikian juga tidak ada pengetahuan pada dirinya sendiri”.

Kebenaran bagi Nietzsche adalah suatu metafor:

Lalu apa itu kebenaran? Sepasukan metafor yang bergerak, metonim, dan antropomorfisme. Kebenaran adalah ilusi-ilusi yang dilupakan orang bahwa itu adalah ilusi. Kebenaran adalah mata uang yang dijadikan medali dan kini tidak lagi dianggap sebagai mata uang, melainkan hanya sebagai logam (ST. Sunardi, 1999: 142).

Selanjutnya dalam bagian akhir Aporishma 533 diungkapkan:

Kebenaran dari sudut pandang perasaan adalah sesuatu yang secara kuat menggugah perasaan (‘ego’).

Dari sudut pandang pikiran, kebenaran adalah sesuatu yang memberikan pikiran perasaan paling agung akan kekuatan.

Dari sudut sentuhan, penglihatan, dan pendengaran kebenaran adalah sesuatu yang mengandung resistensi paling besar (Nietzsche, 1968:533).

Lebih tegas lagi diungkapkan Kebenaran Menurut Nietzsche dalam Aporishma berikutnya:

“Kebenaran menurut cara berpikir saya tidak harus mengacu pada antitesis kekeliruan, tetapi dalam hal-hal yang paling mendasar hanyalah merupakan hubungan antara berbagai macam kekeliruan. Mungkin kekeliruan yang satu dianggap lebih tua, lebih mendalam daripada yang lain, bahkan tidak dapat diganggu-gugat lagi seperti halnya suatu entitas dari spesies kita, yang tidak dapat hidup tanpa- nva Sementara itu, kekeliruan lain tidak memaksa kita untuk menjadikannya sebagai syarat hidup, tetapi jika dibandingkan dengan tiran-tiran seperti ini pasti akan tersisih dan ditolak” (Nietzsche, 1968: 535).

Catatan: tulisan ini diambil dari karya Sri Rahayu Wilujeng. Dan pembelian buku filsafat dapat di instagram infobuku.co atau WA 085725899372 dengan Klik bit.ly/2HCJEe0

Related posts

Agama menurut Freud

admin

Konsep Milk Al-Yamīn Muḥammad Syaḥrūr Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital

admin

Belajar Filsafat Menjadi Ateis?

admin

1 comment

Biografi Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher - filosofis Februari 2, 2020 at 9:54 am

[…] ketika mengajar teologi Protestan di Universitas Berlin antara 1810 dan 1834. Seorang mahasiswanya, Friedrich Lücke, mengumpulkan manuskrip-manuskripnya dan pada 1838 menerbitkan kumpulan itu dengan judul […]

Reply

Leave a Comment