FILSAFAT

Moral, Agama, dan Etika Filosofis

agama dan filosofis
agama dan filosofis

Moral, Agama, dan etika Filosofis mempunyai hubungan erat satu sama lain. Dalam praktek hidup schaii-hari, motivasi kita yang terpenting dan terkuat bagi perilaku moral adalah agama. Atas pertanyaan “mengapa perbuatan ini atau itu tidak boleh dilakukan”, hampir selalu diberikan jawaban spontan karena agama melarang atau “karena hal itu bertentangan dengan kehendak Tuhan . Contoh hubungan Moral, Agama, dan Etika Filosofis adalah masalah moral yang aktual seperti hubungan seksual sebelum perkawinan dan masalah moral lain mengenai seksualitas. Menghadapi masalah-masalah itu, banyak orang mengambil sikap: “aku ini orang beragama dan agamaku melarang melakukan perbuatan itu; aku akan merasa berdosa, bila melakukan hal serupa itu Dengan itu masalahnya sudah selesai. Cara bagaimana kita harus hidup, memang biasanya kita tentukan berdasarkan keyakinan keagamaan.

Setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya. Jika kita membandingkan pelbagai agama, ajaran moralnya barangkali sedikit berbeda, tetapi secara menyeluruh perbedaannya tidak terlalu besar. Boleh dibilang, ajaran moral yang terkandung dalam suatu agama meliputi dua macam aturan. Di satu pihak cukup banyak aturan berbicara -kadang- kadang dengan cara agak mendetail- tentang makanan yang haram, puasa, ibadat, dan sebagainya. Terutama aturan seperti itulah yang sering berbeda dalam agama yang berlain-lainan, tetapi konsekuensinya tidak besar karena aturan-aturan itu hanya menyangkut kalangan intern agama tersebut. Di lain pihak ada aturan etis lebih umum yang melampaui kepentingan salah satu agama saja, seperti jangan membunuh, jangan berdusta, jangan berzinah, jangan mencuri.

Dalam tradisi Yahudi-Krisdani aturan-aturan etis lebih umum ini dikumpulkan dalam apa yang disebut “dekalog” atau “sepuluh perintah Allah” (The Ten Commandments). Tidak bisa diragukan, peraturan etis jenis kedua ini paling penting dan diterima oleh semua agama dengan cara yang praktis sama. Dan justru karena aturan-aturan etis yang penting itu diterima oleh semua agama, maka pandangan moral yang dianut oleh agama-agama besar pada dasarnya sama. Kita lihat, di bidang moral kesepakatan antar-agama jauh lebih mudah tercapai daripada di bidang dogmatik (pandangan tentang Allah, tentang hubungan antara Allah dan dunia, dan seterusnya).

Mengapa ajaran moral dalam suatu agama dianggap begitu penting? Karena ajaran itu berasal dari Tuhan dan mengungkapkan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, dasarnya adalah Wahyu. “Sepuluh perintah Allah”, misalnya, disampaikan oleh Yahwe kepada Musa, tergoreskan atas dua batu loh (Kitab Keluaran 31=38)- Ajaran moral icu diterima karena alasan keimanan. Namun demikian, nilai-nilai dan norma-norma moral tidak secara eksklusif diterima karena alasan keagamaan. Ada juga alasan-alasan lebih umum untuk menerima aturan-aturan moral: alsan- alasan rasional, katakan saja. Kita bisa menunjukkan alasan-alasan rasional untuk menerima aturan seperti jangan membunuh, jangan berdusta, dan sebagainya Dan dalam etika filosofis atau filsafat moral justru diusahakan untuk menggali alasan-alasan rasional bagi nilai-nilai dan norma-norma yang kita pakai sebagai pegangan bagi perilaku moral kita.

Berbeda dengan agama, filsafat memilih titik tolaknya dalam rasio dan untuk selanjutnya juga mendasarkan diri hanya atas rasio. Filsafat hanya menerima argumen-argumen, artinya, alasan-alasan logis yang dapat dimengerti dan disetujui oleh semua orang. Ia menghindari setiap unsur non-rasional yang meloloskan diri dari pemeriksaan oleh rasio. Sedangkan keimanan justru tidak terbuka untuk pemeriksaan rasional. Kebenaran iman tidak dibuktikan, melainkan dipercaya. Kebenarannya tidak diterima karena dimengerti, melainkan karena terjamin oleh asal-usul ilahi atau Wahyu.

Bila agama berbicara tentang topik-topik etis, pada umumnya ia berkhotbah, artinya, ia berusaha memberi motivasi serta inspirasi, supaya umatnya mematuhi nilai-nilai dan norma-norma yang sudah diterimanya berdasarkan iman. Bila filsafat berbicara tentang topik-topik etis, ia berargumentasi, artinya, ia berusaha memper­lihatkan bahwa suatu perbuatan tertentu harus dianggap baik atau buruk, hanya dengan menunjukkan alasan-alasan rasional. Demikian juga ada perbedaan tentang kesalahan moral.

Dalam konteks agama, kesalahan moral adalah dosa, artinya, orang beragama merasa bersalah di hadapan Tuhan, karena melanggar perintah- Nya. Dari sudut filsafat moral, kesalahan moral adalah pelanggaran prinsip etis yang seharusnya dipatuhi. Karena itu di sini kesalahan moral pada dasarnya adalah sebuah inkonsekuensi rasional.

Dengan demikian kita sampai pada kesimpulan bahwa sudut pandang berbeda, jika agama dan filsafat berbicara tentang hal-hal etis. Namun itu tidak berarti bahwa dalam bidang etis tidak ada hubungan erat antara agama dan fil­safat. Hubungan itu dapat didekati dari segi filsafat maupun agama. Dipandang dari segi filsafat, filsuf beragama mau tidak mau akan dipengaruhi oleh keyakinan religiusnya. Ini tidak mengherankan, karena ia akan dipengaruhi juga oleh banyak faktor lain, seperti kedudukan sosial ekonominya, kebudayaannya, gendernya, dan sebagainya. Misalnya, bila selaku orang beriman, ia percaya bahwa Tuhan telah menciptakan dunia dan manusia, maka kepercayaannya itu akan mengarahkan juga pemikirannya tentang hal-hal etis.

Banyak filsuf beragama, misalnya, berpikir bahwa kehidupan itu suci (the sanetity of life). Visi yang bersumberkan agama ini akan mempengaruhi pandangan mereka tentang masalah etis seperti aborsi eutanasia, dan sebagainya. Tapi visi yang berasal dari agama tidak merupakan prasangka buta. Mereka tidak akan mengatakan: “kehendak Tuhan demikian”. Sebagai filusf mereka harus merefleksikan dan mempertanggungjawabkan segala-galanya, termasuk juga visi yang menjadi titik tolaknya.

Dipandang dari segi agama, agama yang membahas masalah-masalah etis sering kali akan menggunakan argumentasi-argumentasi yang pada dasarnya bersifat filosofis, terutama kalau masalah-masalah itu baru dan diakibatkan oleh perkem­bangan ilmiah yang modern. Sebab, dalam hal ini Kitab Suci agama apa pun tidak memberi pegangan secara langsung. Di sini agama hanya memiliki sebagai pedoman prinsip-prinsip etis umum, yang sebenarnya bukan milik eksklusif agama, karena dapat diterima oleh hampir semua orang. Dalam menghadapi masalah-masalah aktual, bagi agama sering kali tidak ada jalan lain daripada melalui argumentasi menerapkan prinsip-prinsip umum itu pada masalah yang bersangkutan. Dengan demikian jalan yang ditempuh untuk sebagian besar bersifat filosofis juga.

Pertanyaan lain dalam konteks ini menyangkut agama sebagai dasar untuk moralitas. Apakah tidak harus dikatakan bahwa moral mendapat daya ikatnya dari agama? Supaya kewajiban-kewajiban moral sungguh-sungguh mengikat, bukankah perlu diterima adanya Tuhan Mahaadil yang mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat? Walaupun kita barangkali berhasil lolos dari polisi atau hakim manusiawi, tidak pernah kita bisa lolos dari Tuhan sebagai Hakim Tertinggi yang akan mengadili perbuatan setiap orang pada akhir zaman. Bagi orang beragama, Tuhan adalah dasar dan jaminan untuk berlakunya tatanan moral. Atau sebagaimana dikatakan oleh seorang tokoh dalam novel yang ditulis pengarang Rusia termasyhur, Dostoyevski: “Seandainya Allah tidak ada, semuanya diperbolehkan .

Demikianlah pemikiran traditional yang berabad-abad diterima begitu saja tanpa mempersoalkannya dan sampai kini banyak orang masih tetap berpendapat sama. Tapi kita tidak bisa menutup mata untuk kenyataan bahwa sekarang tidak sedikit orang berpendapat lain. Ini salah satu akibat gejala sekularisasi, artinya, gejala yang membuat semakin banyak orang mengerti dunia serta kehidupan mereka sendiri tanpa mengikutsertakan asas keagamaan apa pun. Dilihat dalam perspektif sejarah, gejala ini agak baru dan untuk pertama kali tampak dalam zaman modern. Tapi tidak bisa disangkal, sekarang gejala ini semakin meluas. Terdapat orang ateis dan agnostisis dan lebih banyak lagi orang yang dalam praktek hidupnya tak acuh terhadap agama. Namun, itu tidak berarti mereka membuang etika juga. Sering kali mereka amat menjunjung tinggi etika  dan justru menuduh kaum beragama, karena berulang kaii agama menjadi biang keladi banyak sekali penindasan, kekerasan, peperangan, dan pembunuhan yang terjadi sepanjang sejarah.

Atas nama agama -mereka tegaskan (dan siapa dapat  membantah?)- telah terjadi macam-macam kejahatan yang dapat meragukan mutu etis agama. Filsuf Prancis Jean-Paul Sartre (1905-1980), salah seorang ateis paling radikal dalam abad ke-20, dengan tegas menolak perkataan Dostoyyevski tadi. tidak benar bahwa orang yang tidak beragam semuanya diperbolehkan. menurut dia, manusia memang tidak bertanggungjawab kepada Tuhan, namun ia tetap bertranggungjawab kepada dirinya sendiri dan tanggung jawab terakhir ini pasti tidak kurang penting. Sartre dan kawan-kawannya melihat moralitas sebagai suatu urusan antar-manusia saja. Namun demikian, itu tidak berarti mereka tidak menerima moralitas sebagai sesuatu yang sangat penting dan hakiki, baik bagi individu maupun bagi masyarakat.

Perlu diakui hubungan Moral, Agama, dan Etika Filosofis, bukan merupakan monopoli orang beragama. “Baik” dan buruk tidak mempunyai arti untuk orang beragama saja. Adalah kenyataan bahwa dewasa ini tidak sedikit orang menganut suatu etika humanistis dan sekular, tanpa hubungan apa pun dengan agama. Karena itu di sini kita sampai pada kesimpulan yang sama seperti dalam pasal sebelumnya. Di situ ditegaskan bahwa dalam dunia yang ditandai pluralisme moral semakin mendesak kehadiran etika filosofis yang berusaha memecahkan masalah-masalah etis atas dasar rasio saja. Pada kenyataannya pluralisme modern yang menandai zaman kita sebagian disebabkan karena adanya etika humanistis dan sekular yang tidak lagi mengikutsertakan acuan keagamaan.

Ada pluralisme pandangan etis bukan saja karena adanya pelbagai agama dengan suasana moral yang berbeda-beda -perbedaan-perbedaan ini agak kecil dan tidak begitu sulit untuk diatasi-, melainkan juga dan terutama karena tembok pemisah antara pandangan etis orang beragama dan orang sekular. Jika kita ingin mencapai kesepakatan di bidang etis, kita hanya bisa berpedoman pada rasio, sebab sarana lain tidak kita punya. Dengan itu kita menempuh jalan yang sulit, rapi tidak mustahil. Dalam hal ini contoh keberhasilan yang dapat membesarkan hati adalah Deklarasi Universal tentang Hak-hak Asasi Manusia (1948) yang sudah disebut sebelumnya. Nama “Allah” atau referensi keagamaan lain tidak disebutkan dalam dokumen itu, walaupun sewaktu persiapannya hal itu diusulkan oleh bebe­rapa negara.

Yang menjadi dasar etis untuk seluruh dokumen itu adalah martabat manusia, sebagaimana secara eksplisit dikatakan pada pembukaannya. Dengan demikian deklarasi itu dapat diterima oleh semua negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, baik oleh negara yang berideologi ateistis (negara komunistis pada waktu itu) maupun juga semua negara yang mengambil posisi antara dua ekstrem itu. sekarang ini juga jalan rasional membuka prospek paling baik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan di bidang etika.

Catatan: tulisan ini diambil dari buku Etika karya K. Bartens. Dan pembelian buku filsafat dapat di instagram infobuku.co atau WA 085725899372 dengan Klik bit.ly/2HCJEe0

Related posts

Agama, Hanya Pemenuhan Harapan?

admin

Biografi Antonio Gramsci

admin

Politik Yunani Kuno

admin

1 comment

Niccolo Machiavelli (1469-1527) - filosofis Januari 31, 2020 at 9:19 am

[…] ini hidup dalam zaman Renaisans. Lahir dari seorang pengacara kaya di Italia pada tahun 1469, Machiavelli beruntung karena tidak […]

Reply

Leave a Comment