FILSAFAT

Pythagoras Menciptakan Agama

PYTHAGORAS, yang mempengaruhi terhadap zaman kuno dan modern saya jadikan pokok pembicaraan, dari segi intelektual adalah salah seorang tokoh terpenting yang pemah hidup, baik ketika ia bijak maupun tak bijak. Matematika, dalam pengertian sebagai argumen deduktif demonstratif, bermula dari dia, dan oleh dialah matematika dikaitkan dengan suatu berttuk mistisisme yang ganjil. Pengaruh matematika terhadap filsafat, yang sebagian adalah karena dia, sejak zaman itu menjadi cukup mendalam sekaligus kurang menguntungkan.

Polycrates adalah seseorang penyantun seni dan ia menghiasi kota Samos dengan bangunan-bangunan publik yang indah. Anacreon adalah penyair istananya. Tetapi Pythagoras tak menyukai pemerintahannya, sehingga ia pun hengkang dari Sanios. Dikisahkan, dan memang bukan mustahil, Pythagoras mengunjungi Mesir dan banyak belajar untuk memperluas wawasannya di situ; tetapi bagaimananun kemungkinannya, jelas bahwa pada akhirnya ia menetap di Croton, Itali selatan.

Di Croton, Pythagoras membentuk suatu perkumpulan keagamaan yang untuk sekian waktu cukup berpengaruh di kota itu. Tetapi belakangan warga kota itu menentangnya sehingga Pythagoras harus pindah ke Metapontion (juga di Italia selatan), di maria ia nantinya wafat. Ia segera menjadi tokoh yang dimitoskan, yang memperoleh mukjizat dan kekuatan gaib, sementara ia pun seorang pendiri suatu mazhab yang terdiri dari para matematisi. Dua tradisi yang bertolak-belakang itu saling bergulat dalam pemikirannya, sehingga kebenaran pun menjadi sulit dijabarkan.

Pythagoras adalah salah seorang tokoh yang paling menarik dan membingungkan dalam sejarah. Bukan saja tradisi yang terkait dengan dirinya adalah adonan yang nyaris sempurna antara kebenaran dan kekeliruan, tetapi bahkan dalam bentuknya yang polos dan amat gamblang tradisi itu tetapi menampilkan suatu latar kejiwaan yang sulit dimengerti. Ringkasnya, ia bisa digambarkan sebagai perpaduan antara Einstein dan Ny. Eddy, ia mendirikan sebuah agama yang ajaran utamanya adalah perpindahan jiwa dan bahwa makan buncis diharamkan. Ajarannya ia wujudkan dalam bentuk ordo keagamaan yang, di pelbagai tempat, bisa meraih kekuasaan atas Negara dan dengan demikian meneguhkan kepemimpinan para pendeta. Namun para pengikutnya yang kurang bersungguh-sungguh sangat merindukan buncis, sehingga cepat atau lambat pasti membangkang.

Beberapa peraturan dalam ordo Pythagorean adalah sebagai berikut:

1.            Berpantang makan bunds,

2.            Jangan memungut sesuatu yang sudah jatuh.

3.            Jangan menyentuh ayam jago putih

4.            Jangan meremukkan roti.

5.            Jangan mefangkahi palang.

6.            Jangan mengorek api dengan besi.

7.            Jangan makan bungkahan roti yang masih Utah.

8.            Jangan memetik karangan bunga.

9.            Jangan menduduki takaran kuart

10.          Jangan makan jantang.

11.          Jangan berjalan kaki di jalan raya

12.          Jangan membiarkan burung walet bersarang di atap rumah.

13.          Jika mengangkat periuk dari perapian, jangansampai ada bekasnya di atas abu, sehingga abHiharus dikorek.

14.          Jangan melihat cermin di samping cahaya

15.          Baranggiapa bangun tidur, gulunglah alas tidurmu dan hilangkan bekas badan di situ.

Cornford (From Religion to Philosopy) mengemukakan bahwa, menurut pendapatnya, “Mazhab Pythagoras merupakan arus utama tradisi mistik yang kita anggap bertentangan dengan kecenderungan ilmiah. “Ia menilai Parmenides, yang ia sebut “penemu ilmu logika” sebagai “seseorag penerus Pythagoreanisme, dan Plato sendiri pun menemukan dalam filsafat Itali itu sumber utama inspirasinya.”

Menurutnya  Pythagoreanisme adalah suatu gerakan pembaharuan atas Orphisme, sementara Orphisme adalah gerakan pembaharuan atas kepercayaan yang memuja Dionysus. Pertentangan antara yang rasional dan yang mistis, yang berlangsung di sepanjang  sejarah, pertama-tama munculnya di kalangan bangsa Yunani sebagai pertentangan antara dewa-dewi Olympus dengan dewa-dewi yang dipuja oleh  kaum yang kurang beradab, yang memiliki kaitan lebih erat dengan kepercayaan-kepercayaan primitif sebagaimana diungkap oleh para antropolog.

Di dalam pemilahan ini, Pythagoras berada di pihak mistisisme, kendatipun mistisismenya mengandung ciri intelektual yang ganjil. Ia mengaku dirinya sendiri sebagai tokoh setengah dewa, dan konon pernah mengatakan: “Ada manusia dan ada dewa, dan ada pula orang-orang seperti Pythagoras.” Semua sistem yang ia ilhami, menurut Cornford, “cenderung bercorak adiduniawi, menempatkan semua nilai ke dalam persatuan gaib dengan Tuhan, dan mengutuk dunia yang kasat mata ini sebagai kepalsuan dan khayalam, suatu medium keruh di mana berkas-berkas cahaya surgawi terhalang dan mengabur di tengah halimun dan kegelapan.”

Dikaiarchos mengutarakan bahwa Pythagoras mengajarkan “pertama, bahwa jiwa tak dapat mati, dan bahwa jiwa itu berubah menjadi jenis-jenis makhluk hidup lain; kemudian, bahwa apa pun yang bereksistensi dilahirkan kembali menurut perputaran siklus tertentu, sehingga tak ada sesuatu pun yang benar-benar baru; dan bahwa segala sesuatu yang dilahirkan dengan disertai kehidupan di dalamnya harus dianggap berasal dari satu sumber.” Disebutkan bahwa Pythagoras, seperti Santo Francis, pun memberikan khotbah kepada binatang. Dalam perkumpulan yang ia dirikan, laki-laki maupun perempuan memperoleh pedakuan sama; barang-barang menjadi bersama, dan menjalani cara hidup yang sama. Bahkan penemuan-penemuan ilmiah dan matematis dianggap sebagai karya kolektif, dan dari segi mistik merupakan karya Pythagoras, bahkanan sekalipun ia telah wafat. Hippasos dari Metapontion, yang melanggar peraturan ini, mengalami kecelakaan kapal dikarenakan murka dewata atas perbuaiannya yang durhaka.

Related posts

Niccolo Machiavelli (1469-1527)

admin

Biografi al-Farabi

admin

Kritik Karl Marx Terhadap Agama

admin

1 comment

Filsuf Yunani Kuno - filosofis Februari 5, 2020 at 10:34 am

[…] Pythagoras berpendapat demikian, karena ia menemukan bahwa not-not tangga nada sepadan dengan perbandingan-perbandingan antara bilangan-bilangan. Jika ternyata sebagian realitas terdiri dari bilangan-bilangan, mengapa tidak mungkin bahwa segala- galanya yang ada terdiri dari bilangan-bilangan? Pythagoras dan murid- muridnya mempunyai jasa besar juga dalam memperkembangkan ilmu pasti. Dalam bidang ini di sekolah-sekolah kita namanya masih hidup terus karena “dalil Pythagoras”. […]

Reply

Leave a Comment