Majelis Maiyah bukan sekadar forum kajian keagamaan atau komunitas kebudayaan biasa. Ia menjelma menjadi ruang pembelajaran hidup yang merangkul berbagai lapisan masyarakat, tanpa sekat ideologi, agama, atau status sosial. Di balik suasana santai dan penuh nuansa kekeluargaan, tersembunyi suatu misi besar yang dijalankan secara halus namun mendalam: misi pembebasan manusia dari belenggu ketidaksadaran, ketakutan sistemik, dan keterasingan dari makna hidup yang hakiki. Cak Nun, dengan pemikiran dan keteladanan hidupnya, tidak memaksakan doktrin, melainkan mengajak berpikir, merasakan, dan mengalami makna kebenaran secara otentik.
Buku ini mencoba
membaca gerakan Maiyah sebagai “revolusi sunyi”—sebuah proses transformatif
yang tidak mengandalkan kekuatan politik atau kekuasaan struktural, tetapi
bertumpu pada kekuatan spiritualitas, kebudayaan, dan kesadaran kolektif. Lewat
tafsir sosial, penulis menelusuri bagaimana Cak Nun dan komunitas Maiyah
melakukan pembebasan dalam arti Paulo Freire: membangkitkan kesadaran kritis
(conscientization) yang memungkinkan masyarakat memahami realitas, menemukan
jati diri, dan bertindak secara bermartabat. Maiyah bukan gerakan melawan,
tetapi gerakan memahami, menyembuhkan, dan memuliakan.
Dalam dunia yang
semakin gaduh dan terfragmentasi, revolusi senyap yang digagas oleh Maiyah
menjadi oase dan alternatif kultural yang membumi. Nilai-nilai luhur seperti welas
asih, ngalap berkah, dan nguri-uri kabudayan menjadi narasi
tandingan terhadap dominasi nilai-nilai kapitalistik dan individualistik. Buku
ini tidak hanya mengajak pembaca memahami fenomena Maiyah secara akademik,
tetapi juga mendorong refleksi personal: apakah kita masih mampu mendengarkan
suara keheningan? Apakah kita siap menjadi bagian dari revolusi yang tak
tampak, tetapi terasa?
Posting Komentar